Dibuka sebagai toko kolonial.
De Vries & Co membangun ruko tiga lantai di Jalan Braga yang saat itu masih bernama Pedatiweg. Lantai dasar: kedai kopi. Lantai dua: gudang kopi mentah dari Preanger.
01 / 06Kopi yang kami seduh diminum oleh tiga generasi di ruangan yang tidak pernah pindah. Bangunan ini berdiri sejak 1930. Kami hanya meneruskan.
Setiap dekade adalah halaman yang sama, dilihat dari sudut yang sedikit berbeda. Geser untuk membaca.
Kakek saya tidak pernah menjelaskan mengapa meja kayu jati di pojok belakang tidak diganti ketika sudut kanannya pecah. Saya bertanya sekali, saya masih kecil. Ia tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kopi ke mulutnya, menyeruput, dan menatap keluar ke Jalan Braga yang waktu itu masih beraspal hitam lama — aspal yang sama dengan 1950.
Ibu saya menjelaskannya, bertahun-tahun kemudian, ketika saya sudah cukup umur untuk mengerti. Ia berkata: "Pecahnya sudah jadi bagian." Itu semua. Itu cukup.
Sembilan puluh enam tahun sejak toko ini dibuka. Dua belas tukang, empat pemilik, tiga generasi yang sama. Mesin espresso Faema dari 1995 masih dipakai setiap pagi. Tangga jati masih berderit di anak tangga yang sama — yang ketiga dari atas. Dan di pojok belakang, di meja yang sama, sudut yang pecah masih pecah.
Saya sekarang mengerti apa yang dimaksud ibu. Kopi yang baik bukan tentang kesempurnaan teknik. Kopi yang baik adalah kopi yang diseduh di tempat yang tahu dirinya — tempat yang tidak berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Ruangannya sama. Kopinya berubah sedikit, generasi ke generasi. Tapi ruangannya, pintunya, lantai marmernya, meja kayu jatinya yang pecah di pojok — sama. Itulah yang membuat orang datang. Itulah yang saya warisi. Itulah yang tidak akan saya ganggu.
Setiap café sebelumnya gagal di sini — terlalu mahal, terlalu sepi. Kami beroperasi karena kami tidak memperlakukan rumah ini sebagai latar belakang. Kami memperlakukannya sebagai partner.
Lengkung setengah lingkaran khas Wolff Schoemaker. Kaca aslinya tidak selamat melewati gempa 1963, diganti pada 1964. Rangka kayu jati: aslinya.
Dulu tertutup untuk umum. Sekarang bisa dikunjungi. Di dalamnya tersimpan sampel biji mentah dari sembilan dekade — beberapa sudah menjadi fosil.
Tebal 4 cm. Kusen dari kayu yang sama. Engsel tembaga. Tiga goresan di pojok kanan bawah — konon dari kursi yang dilempar pada pertempuran 1949.
Tertutup tegel keramik antara 1984 dan 2014. Ditemukan kembali saat restorasi — masih utuh, hanya butuh dipoles.
Saya tidak mengubah apa pun. Bangunan ini sudah tua sebelum saya datang. Saya hanya meneruskan.
Saya menambahkan espresso. Saya tidak mengganti meja. Pecahnya sudah jadi bagian.
Saya membawa biji baru. Saya tidak membawa ruangan baru. Ruangannya tetap 1930.